BERBAGI

 

Oleh : Bagindo Yohanes Wempi

Saat penulis membaca berita covesia.com, rasa disambar petir di siang bolong dan disayat sembilu hati ini ketika Ustad Irsyad dituding nagatif oleh Angku Aldi Taher, untuang penulis cepat beristifar atau mengucap asma Allah. SWT agar hati ini tenang.

Penulis tidak menyangka seorang anak Minangkabau keturuan kakek/inyiaknya pahlawan menuding senior/ustad di PKS, Ketua DPW PKS, Ustad Irsyad yang kami banggakan di Sumbar dengan tuduhan atau komentar yang tidak paham dengan mekanisme dan prosedur suatu partai.

Jika penulis mengutip ucapan tuan Aldi Taher di media menyampaikan seperti berita ini. Dikutip dari laman covesia.com, Aldi mengatakan Bro Irsyad menguasai PKS Sumbar karena Ketua DPW PKS itu hanya menyebutkan dua nama calon PKS, yakninya Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah dan Walikota Payakumbuh Reza Falefi kepada media di Sumbar.

“Ketua PKS Sumbar harus netral kepada kadernya, jangan berat sebelah, Aldi Taher kader PKS juga,” ungkap Aldi kepada covesia.com melalui pesan WhatsApp, Senin (30/12/2019).

Nah ucapan dinda Aldi Taher seperti itu tidak lah benar, dinda perlu ketahui bahwa Ustad Irsyad hanya menjalankan mekanisme dan kebijakan partai. Semua kebijakan sudah dilalui dengan mekanisme syarii, legal, dan formal di PKS tersebut.

Jika Ketua DPW PKS Sumbar menyebut nama dua calon kepala daerah Sumbar  yaitu H. Riza Fahlevi. ST. MT dan H. Mahyeldi. SP dalam pidato politiknya itu adalah keputusan partai secara legal formal, bukan pandai-pandai Ustad Irsyad mempublisnya.

Perlu penulis jelaskan, bahwa jauh hari pertengahan tahun 2019 mekanisme Pilkada tahun 2020 di internal PKS sudah dilakukan berdasarkan SOP dan keputusan DPP PKS, bahwa di PKS ada namanya Pemilihan Umum Internal (PUI) PKS. tahapan PUI tersebut adalah semua kader mengusulkan nama kader bakal calon kepala daerah yang dimasukan atau sampaikan ke DPD (kabupaten), DPW (propinsi) dan Ke DPP (pusat).

Setelah itu DPP PKS mengeluarkan keputusan siapa nama kader yang akan masuk sebagai nama kepala daerah yang akan dipilih oleh kader untuk diunggulkan. Lalu dilakukan pemilu serentak di kalangan kader, dan didapat lah hasil, lalu ditetapkan menjadi calon kepala daerah (bupati, gubernur).

Setalah ada hasil maka dipilih satu, dua orang atau bisa lebih seperti Padang Pariaman ada 4 orang yang ditugaskan untuk sosialiasi dan kampanye. Nanti akan diputuskan menjadi calon tunggal, itu ada tahapan berikutnya.

Penulis yakin, Insyallah akhi Aldi Taher pahamkan? Itu alurnya, di sini tidak ada monopoli atau pandai-pandai individu tapi murni prosesnya demokrasi. Maka jangan tuding lagi Ustad Irsyad dengan bahasa-bahasa seperti yang dikutip di media tersebut.

Angku Aldi Taher ingatlah, penulis kenal dengan inyiak Aldi yaitu almarhum Rusdi Taher Tanjuang, beliau seorang pahlwan dari cerita dan tulisan yang pernah memuat sosok almarhum bahwa beliau sosok yang santun, sosok yang karismatik, yang teguh menjalankan nilai-nilai budaya Minangkabau.

Maka Bro Aldi Taher belajarlah dengan kakek atau inyiak bahwa di Minang ada nilai-nilai sopan santun, tata krama, dan berbicara selalu memakai budaya kato/kata nan ampek yaitu kata mandata untuk samo gadang, kato manurun untuk anak di bawah, kata malerang dengan orang sumando, kata mandaki untuk urang tuo.

Jika jadi orang hebat atau mau jadi pemimpin di Sumbar atau di Minangkabau maka pakailah budaya tersebut, budaya yang telah teruji sejak dahulu, budaya yang telah membuat NKRI berdiri, kata orang Minang budaya yang tidak lakang dek paneh, tidak lapuak dek hujan.

Penulis berharap dan berdoa dengan ada tulisan ini, maka robahlah sikap, kata urang Minang “mangango ka mangecek”, andaikan kalau muncuang lah taluncue kato, tolong diklarifikasi dan minta maaf, buat ucapan maaf di media terutama pada kader PKS secara organisasi di Sumbar bahwa ucapan Aldi di media itu salah.

Penulis berharap, jangan Angku Aldi mambuek malu inyiak, yang namanya sangat bagus dan hebat di ranah Minang ini ketika beliau masih hidup. [*]

LEAVE A REPLY