Oleh : Syafri Piliang
Wartawan Muda
Pulau Punjung – Asap tipis mengepul dari kuali – kuali raksasa di belakang Kantor Bupati Dharmasraya, Senin (22/12/2025). Aroma santan dan rempah menyatu dengan udara lembap sisa hujan yang selama 24 hari terakhir tak henti menguji ketahanan warga. Di tempat itulah, di tengah jejak banjir dan galodo yang belum sepenuhnya pulih, harapan kembali dimasak secara harfiah dalam bentuk dua ton rendang siap saji.
Kegiatan bertajuk Sumatera Dharmasraya Peduli ini bukan sekadar dapur umum berskala besar. Ia menjelma menjadi simbol gotong royong, keteguhan, dan ikhtiar negara hadir di saat krisis belum sepenuhnya usai. Daging sapi yang diolah menjadi rendang itu disiapkan untuk didistribusikan kepada warga terdampak banjir dan galodo melalui posko – posko penanganan bencana.
Sejak pagi, 52 nagari dengan 11 kecamatan yang tergabung dalam OPD , organisasi wanita dan Forkopimda Dharmasraya tampak menyatu dengan masyarakat. Pejabat, aparat, relawan, hingga ibu-ibu pengolah rendang berdiri sejajar di 134 kancah. Satu kancah (kuali) 15 kilo gram daging sapi .Tak ada sekat formal, mereka semua larut dalam kerja kolektif yang menuntut ketelatenan dan kesabaran , tapi dua hal yang juga diuji selama hampir sebulan bencana melanda.
Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani bersama Ketua DPRD Jemi Hendra, Wakapolres Kompol M. Rizky Cholid, S.I.K terlihat ikut memantau langsung proses memasak. Di bawah kepemimpinan Sang Srikandi memilih langkah yang sederhana, namun berdampak panjang yakni menyediakan pangan siap saji yang tahan lama, bernilai gizi, dan mudah didistribusikan ke wilayah – wilayah yang aksesnya masih terbatas.
“Rendang bukan hanya makanan,” ujar seorang relawan Leni sambil mengaduk santan yang mulai mengental. “Ini bekal kekuatan.”
Dalam konteks kebencanaan, pilihan itu menjadi strategis. Rendang dapat bertahan lama tanpa pengawet, mudah dikemas, dan akrab dengan selera masyarakat setempat. Ia juga membawa makna kultural: makanan yang lahir dari kesabaran dan proses panjang seperti upaya pemulihan pascabencana itu sendiri.
Banjir dan galodo yang melanda Dharmasraya telah mengubah banyak hal. Rumah rusak, lahan terendam, aktivitas ekonomi tersendat. Namun di balik itu, solidaritas tumbuh lebih kuat. Dapur rendang di belakang kantor bupati menjadi ruang temu antara negara dan rakyat, antara kebijakan dan empati.
Saat matahari beranjak siang, rendang masih terus diaduk. Prosesnya belum selesai, seperti pemulihan yang masih berjalan. Namun satu hal menjadi pasti, di tengah lumpur dan kelelahan, ada semangat untuk bangkit bersama. Dan dari kuali-kuali besar itu, Dharmasraya mengirimkan pesan sederhana namun kuat untuk bahwa kepedulian, bila dimasak dengan gotong royong, akan selalu menemukan jalannya menuju mereka yang membutuhkan.***



Discussion about this post