Pasaman — Gerakan Stop BABS (Buang Air Besar Sembarangan) kembali diperkuat sebagai upaya menjaga kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Program ini menekankan pentingnya mengakhiri kebiasaan BAB di sungai, kebun, atau lahan terbuka, serta mendorong masyarakat menggunakan jamban sehat sesuai standar sanitasi, Rabu (12/11).
Kebiasaan BAB sembarangan telah lama menjadi penyebab penyebaran penyakit seperti diare, disentri, hingga infeksi saluran pencernaan lainnya. Karena itu, gerakan Stop BABS menjadi langkah strategis dalam meningkatkan derajat kesehatan, khususnya di wilayah pedesaan.
Upaya ini dilakukan melalui tiga langkah utama:
1. Pembangunan dan penggunaan jamban sehat
Masyarakat diajak memanfaatkan jamban yang layak, baik tipe cemplung maupun jamban berleher angsa, yang memenuhi standar sanitasi dan aman bagi lingkungan.
2. Edukasi dan sosialisasi
Pemerintah daerah bersama Dinas Kesehatan aktif melakukan penyuluhan terkait perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), meningkatkan kesadaran pentingnya sanitasi yang baik.
3. Deklarasi komunitas
Desa yang berhasil bebas dari praktik BABS akan melakukan deklarasi sebagai Nagari ODF (Open Defecation Free), sebagai bentuk komitmen bersama menjaga kesehatan lingkungan.
Kepala Puskesmas Cubadak, Gusti Amerika, menyampaikan bahwa pihaknya bersama lintas sektor terus memperkuat gerakan Stop BABS di seluruh wilayah kerja. Dukungan juga datang dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman melalui Gusti Amrita, yang mendorong percepatan pencapaian nagari berstatus ODF.
“Kolaborasi adalah kunci. Kami ingin memastikan setiap rumah memiliki jamban sehat dan masyarakat memahami pentingnya perilaku hidup bersih, ” ungkapnya.
Gerakan ini diharapkan mampu mempercepat perubahan perilaku masyarakat menuju lingkungan yang lebih bersih, lebih sehat, dan bebas pencemaran—mewujudkan Nagari Pasaman yang benar-benar bebas BABS dan siap menuju ODF 100%.



Discussion about this post