Pulau Punjung – Di sudut saf Masjid Agung Babussalam, Nagari IV Koto Pulau Punjung, Kecamatan Pulau Punjung Rabu malam (25/02/2026), suasana tarawih mengalir khusyuk. Lantunan ayat- ayat suci bersahut lembut diruang AC yang dingin, dan bisik doa para jemaah. Di antara barisan mukena putih yang tertata rapi, ada satu momen kecil yang luput dari protokoler, tetapi tak luput dari nurani.
Salah seorang nenek renta namanya Asnimar 82 tahun, tubuhnya ringkih namun tekadnya tegak, melangkah perlahan menuju saf. Raut wajahnya menyimpan jejak usia,.kulitnya keriput yang bukan sekadar garis waktu, melainkan arsip kehidupan.
Ia duduk bersisian, nyaris tanpa jarak, dengan Bupati Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani.Tak ada sekat. Tak ada pula kursi khusus. Dan tak ada ruang pembatas antara kuasa dan warga. Hanya lantai masjid yang sama dinginnya bagi untuk semua.
Momen itu diabadikan oleh Dodon Aprianto, fotografer pribadi bupati. Namun yang terekam bukan sekadar dua sosok perempuan dalam satu bingkai. Yang tertangkap adalah pertemuan dua zaman, yang satu sedang memegang mandat kekuasaan, yang lain menggenggam sisa – sisa usia.
Ramadan mempertemukan keduanya dalam kesetaraan paling hakiki yakni sebagai hambaNya. Asnimar yang akrap disapa warga buk Asni merupakan warga Nagari IV Koto Pulau Punjung, datang untuk tarawih seperti biasa. Tanpa ada undangan resmi, atribut dan tanpa ambisi.
Ia mungkin tak pernah membayangkan akan duduk berdampingan dengan orang nomor wahid daerah itu.Tetapi begitulah hidup bekerja, kebetulan sering kali lebih jujur daripada skenario yang dibuat – buat.
Annisa, yang malam itu memimpin Tim I Safari Ramadan, tampak menoleh. Ada percakapan singkat. Senyum sumbringah yang mengalir dari raut wajahnya yang tidak dibuat – buat.
Tangan yang saling menggenggam sejenak. Lalu sebuah foto ini bukan untuk pencitraan semata, melainkan sebagai penanda bahwa kepemimpinan menemukan maknanya ketika ia merendah.
Di tengah rutinitas Safari Ramadan yang kerap identik dengan sambutan, bantuan, dan seremonial, peristiwa kecil ini justru malah menyampaikan pesan yang lebih lantang, politik tak selalu harus menjaga jarak antara yang satu dengan yang lainnya. Kekuasaan tak selalu harus berdiri di podium.
Namun momen haru ini juga menyisakan pertanyaan yang lebih dalam, sebuah refleksi kritis yang patut direnungkan bersama. Jika seorang lansia masih harus melangkah tertatih- tatih menuju masjid, bagaimana dengan akses kesehatan, jaminan sosial, dan perlindungan hari tuanya..?
Jika ia masih kuat beribadah, apakah negara sudah cukup kuat menjaganya..?.Ramadan memang bulan empati penuh dengan rahmat. Tetapi empati tidak boleh berhenti pada bingkai foto saja.
Di Dharmasraya, di bawah cahaya lampu masjid yang temaram, kita melihat gambaran yang sederhana, seorang pemimpin perempuan dan seorang warga lansia duduk sejajar.
Tak ada jarak strata. Tak ada perbedaan hakikat. Yang ada hanyalah dua manusia yang sama-sama menengadahkan tangan. Dan mungkin, justru di situlah letak kepemimpinan yang paling sunyi, ketika ia tak sedang berpidato, melainkan duduk bersila, mendengar napas rakyatnya sendiri.
Foto Dodon malam itu akan menjadi arsip.Tetapi nilai yang dikandungnya, tentang kebersamaan dan kesetaraan, tanggung jawab yang tak berhenti pada simbol yaitu pekerjaan panjang yang harus terus dijaga jangan sampai tergerus termakan waktu, jauh melampaui Ramadan. (SP)



Discussion about this post