Payakumbuh — Di sepanjang aliran Batang Sikali, warga Kenagarian Tiaka berkumpul bukan semata menyalurkan hobi memancing. Lomba mancing ikan larangan yang digelar masyarakat setempat menjelma menjadi ruang perjumpaan, ajang merawat kebersamaan, sekaligus sarana berbagi bagi sesama.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Ketua DPRD Kota Payakumbuh, Husrina Jamhur, Sabtu (31/1/2026). Lomba mancing ini dilaksanakan dalam tiga putaran, dengan frekuensi satu kali setiap pekan, dan rutin digelar tiga kali dalam setahun.
Di balik kesederhanaannya, kegiatan ini menyimpan tujuan yang lebih luas, yakni memperkuat ikatan sosial antarwarga Kenagarian Tiaka. Dalam sambutannya, Husrina Jamhur menilai kegiatan tersebut sebagai pengingat bahwa kehidupan bersama tumbuh dari perjumpaan-perjumpaan sederhana yang dijalani dengan niat tulus.
“Kebersamaan sering kali tidak lahir dari peristiwa besar. Ia tumbuh pelan dari ruang-ruang kecil, ketika warga mau berhenti sejenak, saling menyapa, dan menyadari bahwa mereka berbagi tempat hidup yang sama,” ujar Husrina.
Ia juga menekankan bahwa konsep ikan larangan memiliki makna yang melampaui sekadar aturan adat. Menurutnya, ikan larangan mengajarkan nilai pengendalian diri, kesabaran, serta tanggung jawab kolektif dalam menjaga alam.
“Ada masa ketika alam dijaga dan tidak diambil, agar pada waktunya ia bisa memberi manfaat bagi semua. Di situ ada nilai keadilan dan tanggung jawab bersama,” katanya.
Husrina menambahkan, selama masyarakat masih memiliki ruang untuk berkumpul dan berbagi tujuan, kekuatan sosial akan terus terbangun.
“Modal sosial yang paling berharga bukan hanya pada apa yang kita miliki, tetapi pada kesediaan untuk saling menjaga dan memikirkan masa depan bersama,” ujarnya.
Menurutnya, kepercayaan sosial tidak lahir secara instan, melainkan dibangun melalui kebiasaan saling hadir dan berbagi peran dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kepercayaan tumbuh dari konsistensi, dari kesediaan memikul tanggung jawab, sekecil apa pun itu,” tutur Husrina.
Sementara itu, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Tiaka, Sepriyendi, mengatakan setiap peserta lomba dikenakan biaya pendaftaran. Dana yang terkumpul dimanfaatkan untuk mendukung renovasi Masjid Muhsinin yang berada di depan Kantor Lurah Tiaka, serta untuk santunan anak yatim piatu di Kenagarian Tiaka.
Selain berdimensi sosial dan keagamaan, lomba mancing ini juga menjadi bagian dari upaya warga dalam menjaga dan menghidupkan kembali potensi alam Batang Sikali. Di sepanjang aliran sungai tersebut, warga telah menanam berbagai tanaman produktif yang hasilnya kelak dapat dimanfaatkan bersama.
Upaya pelestarian alam dilakukan secara sederhana namun berkelanjutan. Setiap kali lomba selesai, bibit ikan kembali ditebarkan ke Batang Sikali. Sungai tidak hanya menjadi tempat mencari ikan, tetapi juga ruang hidup yang dirawat secara kolektif.
Dari Batang Sikali, warga Tiaka merajut kebersamaan dengan cara mereka sendiri—pelan, bersahaja, dan berakar pada kesadaran bahwa kehidupan bersama hanya dapat tumbuh jika dirawat bersama. (Bbz)



Discussion about this post