Oleh Syafri Piliang
Wartawan Muda
Dharmasraya – Di ujung Pulau Punjung, lebih tepatnya di Nagari Gunung Selasih, dua jembatan ini telah lama menjerit dalam diam. Jembatan Sungai Belit dan jembatan Sungai Limbu di Jorong Batu Agung bukan sekadar penghubung dua sisi daratan dan juga sebagai urat nadi kehidupan, jalan menuju pulang bagi petani, jalan pergi bagi pedagang. Dan sebentar lagi… jalur berangkat bagi anak-anak menuju sekolah.
Namun kini, keduanya seperti tubuh renta yang tak pernah disembuhkan. Bantalan kayu lapuk mengganga disana sini termakan usia. Besi penyangga kayu mungkin sudah mulai longgar. Baru-baru ini, satu mobil jenis Avanza menjadi saksi bisu kegagalan negara menjaga denyut hidup rakyatnya ,.terperosok ke dalam lubang bangalan jembatan yang tak lagi layak disebut infrastruktur.
Beruntung tak ada nyawa melayang kata Edi warga setempat. Tapi sampai kapan masyarakat harus menggantungkan keselamatan pada keberuntungan..? lirihnya .
” Kami sudah lama menyampaikan hal ini ke Dinas PU-PR, tapi yang kami terima hanya janji dalam diam,” ujar Yuliana salah seorang warga mengaku lelah menanti, entah sampai kapan kedua jembatan ini pulih dari sakitnya.
Dilain sisi di tengah gegap gempita proyek besar yang menelan anggaran miliaran rupiah, dua jembatan ini seperti anak tiri pembangunan. Tak dilirik sama sekali dan tak pula disapa. Padahal setiap pagi, roda kehidupan warga Gunung Selasih bergantung pada papan reyot yang semakin hari makin rapuh yang tergerus oleh waktu.
Sebentar lagi tahun ajaran baru dimulai.Anak-anak akan kembali menyusuri jembatan menuju sekolah, melewati lubang, menghindari patahan kayu yang siap memakan korban. Setiap langkah adalah nyawa taruhannya, sedikit saja lengah terpeleset langsung terjun ke anak sungai dan dinanti pula oleh batu. Setiap ayunan kaki adalah doa agar tak jatuh, agar tak terjebak, untuk bisa sampai ke kelas dengan selamat.
Jembatan ini bukan sekadar fasilitas saja, tapi ini adalah nafas.Jika nafas itu dibiarkan tersengal, maka yang sesak bukan cuma warga, tapi juga nurani para pemangku kebijakan yang berada di negeri konaha ini.
Sebab membiarkan jembatan rusak sama saja dengan membiarkan rakyat berjalan menuju bahaya.Dan kalau tragedi datang, jangan salahkan hujan, jangan salahkan alam, tapi tengoklah pada abainya kebijakan.
Apakah harus ada korban dulu, baru turun dan dperbaiki. Jika sudah darurat seperti ini perlukah efisiensi anggaran entah lah hanya yang disana yang lebih tahu.
Kondisi ini, sejatinya menjadi perhatian serius bagi pemimpin baru untuk memberikan kepastian perbaikan. Supaya warga yang berlalu lalang bernafas agak lega apabila mereka melewati kedua jembatan tersebut. Kini warga hanya terllihat pasrah tapi tak rela sembari menunggu uluran tangan dari pemda setempat*
Discussion about this post