Dharmasraya – Senja di Jalan Lintas Sumatera, tepat di depan Markas Polres Dharmasraya, Gunung Medan, Kecamatan Sitiung, Jumat (6/3/2026), tak hanya diwarnai deru kendaraan yang pulang mengejar waktu berbuka. Di sana ada sekitar 200 paket takjil berpindah tangan , dari seragam cokelat kepada para pengendara yang masih berada di perjalanan.
Di tengah arus kendaraan yang tak pernah benar – benar sepi di jalur utama Sumatera itu, jajaran Polres Dharmasraya berdiri di tepi jalan. Mereka membagikan makanan berbuka kepada pengendara roda dua, mobil pribadi hingga sopir angkutan barang yang melintas.
Kegiatan itu dipimpin langsung Wakapolres Dharmasraya, Kompol Rizky Cholid, bersama para pejabat utama dan personel kepolisian lainnya.
Sebagian pengendara melambatkan kendaraan, sebagian lain berhenti sejenak. Senyum, ucapan terima kasih, dan sapaan singkat menjadi bahasa yang lebih sederhana dari sekadar formalitas program.Bagi mereka yang masih berada di jalan menjelang azan magrib, paket takjil kecil itu berarti jeda, kesempatan untuk berbuka tanpa harus tergesa mencari tempat berhenti.
“Ini bentuk kepedulian Polri kepada masyarakat, khususnya pengendara yang masih berada di perjalanan saat waktu berbuka puasa tiba,” kata Kompol Rizky Cholid di sela kegiatan.
Menurutnya, pembagian takjil ini bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Program serupa dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Mabes Polri hingga tingkat Polsek.
Kapolres Dharmasraya AKBP Karytiana Widyarso Wardoyo Putro, melalui Wakapolres, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu cara menghadirkan institusi kepolisian lebih dekat dengan masyarakat, terutama di bulan suci Ramadan.
“Sekitar 200 paket takjil kami bagikan kepada pengendara yang melintas di Jalan lintas depan Mako Polres Dharmasraya,” ujar Rizky.
Di jalan yang sama, tempat lalu lintas kerap padat, tempat polisi biasanya berdiri untuk mengatur, menertibkan, bahkan menindak, namun hari itu suasananya agak sedikit terasa berbeda. Tangan yang biasa memberi isyarat berhenti kini justru menyodorkan makanan berbuka.
Di bulan Ramadan, gestur kecil seperti itu kerap menjadi cara paling sederhana untuk merawat jarak antara negara dan warganya, agar tidak selalu terasa formal, apalagi kaku. Karena kadang, kehadiran negara di mata masyarakat bukan hanya soal aturan dan penegakan hukum, tetapi juga tentang bagaimana ia muncul di saat – saat paling manusiawi, ketika orang sedang lapar, menunggu azan, dan masih berada di tengah perjalanan.SP

Discussion about this post