Oleh : Syafri Piliang
Wartawan Muda
Dharmasraya – Usai menggelar upacara HUT Dharmasraya di Lapangan Metador, Nagari Koto Baru, Selasa (6/1/2026). Dari kejauhan tampak langit Nagari Koto Padang tidak sepenuhnya cerah. Awan tipis menggantung di udara, seolah ikut menahan napas ketika langkah-langkah rombongan Pemerintah Kabupaten Dharmasraya mendekati sebuah pusara yang sunyi. Di sanalah Drs. H. Ahmad Munawar, M.M. beristirahat sebagai Penjabat Bupati pertama, perintis, dan saksi awal lahirnya sebuah kabupaten yang kini telah berusia 22 tahun.
Tak ada sorak. Tak ada tepuk tangan. Hanya bunga yang berpindah dari tangan ke tanah, dan doa yang lirih menembus kesunyian. Di hadapan makam itu, Dharmasraya seakan diminta untuk menunduk sejenak, ini bukan karena kalah, tetapi karena ingat dari mana ia bermula.
Istri almarhum, Ny. Eti Ahmad Munawar, menyambut rombongan dengan keteduhan yang menyimpan jejak panjang pengabdian. Wajahnya seperti lembar arsip hidup, tenang, tapi penuh cerita tentang masa – masa ketika Dharmasraya belum lebih dari sebuah nama dan harapan.
Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani melangkah perlahan. Bersama Wakil Bupati Leli Arni, Ketua DPRD Jemi Hendra, unsur Forkopimda, hingga tokoh adat dan alim ulama, ia berdiri dalam satu barisan sejarah.
Tak ada sekat jabatan. Semua setara sebagai pewaris amanah.Satu per satu, mereka menabur bunga. Gestur sederhana, tapi sarat dengan makna, bahwa kekuasaan, betapapun tinggi, pada akhirnya akan bersua dengan tanah yang sama.
Ahmad Munawar dilantik sebagai Penjabat Bupati Dharmasraya pada 10 Januari 2004 yakni tiga hari setelah kabupaten ini resmi berdiri. Saat itu, tak ada kemewahan. Anggaran terbatas. Kantor belum layak. Perangkat pemerintahan belum lengkap. Yang melimpah hanyalah sebuah harapan dan itu justru bisa menjadi beban paling berat untuk dirasa.
Dalam situasi serba darurat itu, Munawar lebih memilih jalan sunyi, musyawarah. Ia mendekati tokoh adat, merangkul masyarakat, menenangkan kegelisahan, dan menjaga agar euforia pemekaran tak berubah menjadi konflik. Ia tidak membangun gedung megah, tetapi menegakkan kepercayaan. Ia tidak meninggalkan monumen, tetapi nilai.
“Dharmasraya dibangun dari niat tulus, kerja keras, dan kebersamaan,” ujar Bupati Annisa di hadapan pusara. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi justru di situlah ketajamannya. Sebab, dua dekade kemudian, pertanyaan itu kembali relevan. Pertayaan yang tersisa masihkah nilai-nilai itu menjadi kompas? Karena dalam usia 22 tahun bukan lagi usia kanak-kanak bagi sebuah daerah otonom.
Dharmasraya telah tumbuh, membangun, dan mencatat capaian. Namun tuntutan masyarakat juga semakin nyaring. Ketimpangan, pelayanan publik, hingga kepercayaan, namum semuanya menunggu jawaban yang tak bisa ditunda.
Ziarah ini, karenanya, bukan nostalgia kosong. Ia adalah cermin. Di pusara Ahmad Munawar, Dharmasraya diingatkan bahwa kekuasaan sejati bukan soal berapa lama berkuasa, melainkan seberapa dalam jejak pengabdian yang ditinggalkan.
Atas nama pemerintah dan masyarakat, Bupati Annisa menyampaikan penghormatan kepada keluarga almarhum dan masyarakat Nagari Koto Padang. Nagari yang melahirkan seorang perintis, tanpa hiruk-pikuk duniawi, tanpa pamrih.
Ketika rombongan perlahan meninggalkan makam dan tetap berjalan seperti biasa. Tapi Dharmasraya seharusnya pulang dengan sesuatu yang lebih dari sekadar rangkaian HUT, kesadaran bahwa masa depan yang kokoh hanya bisa dibangun oleh mereka yang tidak lupa cara menghormati masa lalu. Terlihat di hadapan pusara itu, Dharmasraya tidak sedang merayakan usia. Tapi Ia belajar untuk rendah hati. ***



Discussion about this post