Dharmasraya – Hampir satu tahun terakhir, wajah Ibu Kota Kabupaten Dharmasraya tampak gelap gulita pada malam hari. Sejumlah lampu penerangan jalan umum (PJU), khususnya di jalur dua kawasan pusat pemerintahan, dilaporkan tidak menyala akibat tunggakan pembayaran listrik.
Kondisi ini memunculkan pemandangan yang dinilai tidak lazim, terlebih Dharmasraya kini telah berusia 22 tahun sebagai daerah otonom. Di tengah geliat aktivitas masyarakat pada malam hari, kegelapan justru menjadi potret yang dominan di kawasan yang seharusnya menjadi etalase daerah.
Fenomena ini terjadi tidak di ibu kota kabupaten saja di sungai rumbai juga terlihat antara hidup dan mati. Mirisnya di tengah kebijakan efisiensi anggaran dan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang hampir setiap tahun dibayangi defisit. Namun, pertanyaan publik mengemuka, mengapa justru lampu jalan yang dikorbankan. Saat ini diduga tunggakan JPU mencapai Rp. 6, 26 Milyar.
padahal penerangan jalan memiliki pos anggaran tersendiri?
Terpisah camat Pulau Punjung Erick Harja mengatakan Kamis (5/02/2026). Ia tak menapik dan membenarkan lampu jalan itu mati. Namun entah apa sebabnya kita tidak tahu, tapi kami akan segera berkoordinasi dengan OPD terkait, ” ucap Erick singkat
Disi selain penerangan jalan bukan semata soal estetika kota. Lebih dari itu, PJU berkaitan langsung dengan keselamatan pengguna jalan, rasa aman masyarakat, serta citra tata kelola pemerintahan daerah. Jalur dua ibu kota kabupaten merupakan akses utama mobilitas warga, aparatur sipil negara, hingga aktivitas ekonomi malam hari.
Sejumlah warga menilai kondisi gelap yang berkepanjangan ini mencerminkan lemahnya perencanaan dan pengelolaan anggaran. “Kalau jalan utama saja gelap, bagaimana dengan wilayah pinggiran,” ujar Edi salah seorang warga yang kerap melintas di kawasan tersebut.
Hingga kini, belum ada penjelasan terbuka dari pihak terkait mengenai penyebab pasti tunggakan, besaran kewajiban yang belum dibayarkan, serta langkah konkret pemerintah daerah untuk memulihkan penerangan jalan.
Di usia yang seharusnya menandai kematangan sebuah daerah, kegelapan lampu jalan di pusat kota Dharmasraya justru menyalakan tanda tanya besar: apakah efisiensi anggaran telah berjalan pada jalur yang tepat, atau ada persoalan lain yang belum terungkap ke publik.
Masyarakat kini menunggu, bukan hanya lampu jalan kembali menyala, tetapi juga transparansi dan keberanian pemerintah daerah menjelaskan apa yang sebenarnya yang sedang terjadi. SP



Discussion about this post