Oleh : Syafri Piliang
Wartawan Muda
Padang – Di sebuah ruang pertemuan tepatnya di Markas Komando Daerah Militer XX/Tuanku Imam Bonjol (TIB), Padang, Kamis (22/1/2026), percakapan tentang jembatan mengalir deras lebih dalam dari sekadar gambar teknis dan bentang sungai. Ia menyentuh soal harapan, keselamatan, dan denyut kehidupan warga Dharmasraya yang sempat terputus oleh banjir.
Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani hadir bukan hanya membawa proposal pembangunan, tetapi juga membawa aspirasi masyarakat dari nagari – nagari yang selama kurun waktu hampir satu tahun terakhir ini harus berdamai dengan keterbatasan.
Dari 52 Nagari dibumi mekar, ada dua jembatan di Nagari Ampang Kuranji, Kecamatan Koto Baru, dan Nagari Banai, Kecamatan Sembilan Koto. Ini bukan sekadar infrastruktur yang rusak, melainkan simpul ekonomi dan akses pendidikan yang rapuh setelah diterjang banjir tahun lalu.
Annisa disambut langsung Pangdam XX/TIB Mayjen TNI Arief Gajah Mada. Pertemuan berlangsung hangat, namun sarat keseriusan. Di meja itu, yang dibahas bukan hanya “kapan dibangun”, tetapi “bagaimana memastikan jembatan itu benar – benar menjawab kebutuhan warga”.
Dilain sisi jembatan ini menyangkut hajat hidup orang banyak terutama bagi anak – anak sekolah, petani, pedagang, hingga keselamatan warga,” kata Annisa dengan nada sedikit agak tegas namun menyimpan keprihatinan.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi mengandung realitas keras di lapangan, warga yang harus memutar jauh, siswa yang terlambat sekolah, dan ekonomi nagari tersendat akibat jembatan yang diterjang banjir.
Pemerintah Kabupaten Dharmasraya, kata Annisa, siap berdiri di garis depan mendukung pembangunan , mulai dari fasilitasi lahan, koordinasi lintas sektor, hingga dukungan administratif. Sebuah pernyataan kesiapan yang sekaligus menjadi kritik diam yakni terkait pembangunan tak boleh lagi tersandera oleh birokrasi yang lamban.
Dari sisi militer, Pangdam XX/TIB menekankan kehati-hatian. TNI tidak ingin membangun jembatan yang sekadar berdiri, tetapi yang bertahan. Survei lapangan akan menjadi tahap awal untuk mengukur lebar sungai, membaca kestabilan tanah, dan memahami karakter wilayah.
“ Apakah nanti jembatan gantung, Aramco, atau Bailey, itu ditentukan oleh kondisi alamnya,” ujar Arief Gajah Mada. Alam, dalam pandangannya, bukan lawan yang harus ditaklukkan, melainkan variabel yang sejatinya harus dihormati.
Pembangunan dua jembatan ini sepenuhnya akan dilaksanakan oleh TNI, bagian dari komitmen nasional Presiden Prabowo Subianto untuk membangun 300 ribu jembatan di seluruh Indonesia. Angka yang terdengar ambisius, tetapi di Dharmasraya, ambisi itu diterjemahkan dalam bentuk yang sangat konkret.
Akses yang kembali terbuka, jarak yang kembali dipendekkan.Dalam konteks itu, jembatan tak lagi sekadar rangka baja dan beton. Ia adalah simbol kehadiran negara di wilayah yang kerap terlupakan, sekaligus merupakan ujian, apakah janji percepatan pembangunan itu benar – benar sampai ke akar rumput.
Bagi warga Ampang Kuranji dan Banai, jembatan yang akan dibangun kelak mungkin tak akan tercatat dalam buku besar sejarah nasional. Namun bagi mereka, jembatan itu adalah masa depan sebagai jalan untuk menuju pulang yang lebih aman. Jalan sekolah yang tak lagi terputus, dan jalan ekonomi yang kembali berdenyut.
Di sanalah pembangunan menemukan maknanya yang paling manusiawi.***



Discussion about this post