Oleh : Syafri Piliang
Wartawan Muda
Dharmasraya – Sebuah program diluncurkan. Tidak riuh oleh jargon berlebihan, tidak pula gemerlap seremoni kosong. Namun dari tangan Bupati Annisa Suci Ramadhani, sebuah harapan dilepas, One Village One Product (OVOP) Perikanan program yang kelak akan diuji bukan oleh pidato, melainkan oleh kolam – kolam ikan rakyat.
Program OVOP perikanan ini digagas Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Dharmasraya di bawah kepemimpinan Hastho, M.Pd didampingi Sekretaris Yoyok.S. Ia bukan hanya sekadar proyek tahunan dalam dokumen APBD 2026, melainkan sebuah pertaruhan, apakah pembangunan benar – benar bisa berangkat dari desa, dari kelompok kecil, dari kerja sunyi para pembudidaya ikan.
Pelaksanaannya dijadwalkan mulai Februari 2026. Namun sejatinya, prosesnya sudah dimulai lebih awal, di meja verifikasi, di lapangan yang penuh berlumpur dan di pertemuan – pertemuan kelompok yang kerap luput dari sorotan.
Verifikasi, menyaring harapan dari sekadar proposal tak semua kelompok akan serta – merta menerima manfaat. Dinas pangan dan perikanan memilih jalan yang lebih sunyi, sekaligus lebih berat yakni verifikasi kelompok dan penetapan plotting project.
Kelompok budidaya ikan dan nagari calon OVOP diseleksi berdasarkan indikator-indikator perikanan, mulai dari kesiapan lahan, keberlanjutan usaha, hingga kapasitas sumber daya manusianya. Di titik ini, OVOP akan diuji, apakah ia menjadi program pemberdayaan, atau sekadar pembagian bantuan.
Langkah verifikasi ini penting, namun juga rawan. Ketika negara mulai memilih, selalu ada yang merasa ditinggalkan. Maka transparansi menjadi harga mati. Jika tidak, OVOP bisa tergelincir menjadi proyek elitis di tengah jargon kerakyatan.
Komitmen Dinas, Ujian Lapangan Hastho menegaskan, dinas yang dipimpinnya berkomitmen menjalankan program unggulan Bupati dan Wakil Bupati secara maksimal. Kata “maksimal” di sini bukan sekadar serapan administratif.
Ia akan diuji di lapangan, apakah pendampingan berkelanjutan hadir, apakah akses pasar dibuka dan apakah pembudidaya ikan benar – benar naik kelas, bukan hanya panen proposal. Sebab sejarah pembangunan desa kerap penuh ironi.
Program datang, spanduk dipasang, bantuan dibagikan, lalu negara pergi. Yang tersisa hanyalah kolam yang kembali sunyi dan masyarakat yang belajar berharap dengan hati – hati. OVOP dan Janji yang tertuang di dalam visi “Dharmasraya Sejahtera Merata” yang diusung Annisa Suci Ramadhani bukanlah kalimat sederhana.
Kata merata selalu menjadi bagian tersulit. OVOP perikanan menawarkan jalan, satu nagari, satu produk unggulan, satu identitas ekonomi. Namun pertanyaannya tegas, apakah produk itu akan hidup di pasar,
atau mati di laporan akhir tahun?
Jika dijalankan dengan konsisten, OVOP perikanan bisa menjadi fondasi ekonomi lokal unruk menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan menahan laju urbanisasi diam – diam. Tapi jika setengah hati, ia hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah kebijakan daerah.
Di Dharmasraya, masa depan mungkin sedang bergerak perlahan di kolam – kolam ikan, di tangan – tangan kasar pembudidaya, di nagari – nagari yang selama ini menunggu giliran.OVOP perikanan adalah sebuah janji.
Janji yang tidak butuh pujian, tetapi kehadiran negara yang konsisten. Karena kesejahteraan, pada akhirnya, bukan soal launching melainkan soal siapa yang tetap bertahan setelah kamera dimatikan.***



Discussion about this post