Oleh : Syafri piliang
Wartawan Muda
Pulau Punjung – Pagi belum sepenuhnya matang ketika halaman Auditorium Kantor Bupati Dharmasraya mulai ramai. Senin, 19 Januari 2026, warga datang dengan langkah ringan namun mata penuh harap.
Di tangan mereka, bukan sekadar tas belanja, melainkan juga harapan akan dapur yang tetap mengepul di tengah harga pangan yang kerap naik turun tanpa ada aba – aba.
Hari itu, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya meluncurkan program One Village One Product (OVOP), ditandai dengan Bazar Pertanian. Ini sebuah peristiwa yang tampak sederhana, namun menyimpan pesan besar tentang arah kebijakan dan keberpihakan.
Di antara deretan sayur mayur, bawang merah yang mengilap, cabai merah yang menyala, hingga telur ayam yang tersusun rapi terselip cerita tentang ekonomi rakyat kerakyatan yang ingin dijaga tetap bernapas.
Pemerintah daerah menghadirkan 500 paket kebutuhan pangan, seluruhnya berasal dari hasil pertanian dan peternakan lokal. Harga – harganya sengaja ditekan, jauh di bawah pasar. “Ini bukan sekadar bazar,” ujar Ketua Pelaksana kegiatan, Yefrinaldi, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Dharmasraya.
” Ini bentuk nyata keberpihakan pemerintah kepada masyarakat, terutama saat harga pangan sering kali memberatkan.”
Paket senilai Rp183.100 itu akhirnya ditebus warga seharga Rp164.790 setelah subsidi 10 persen dari Bank Nagari.
Angka – angka itu penting, namun yang lebih berarti adalah dampaknya, pengeluaran rumah tangga yang lebih ringan, kecemasan yang berkurang, dan rasa dilibatkan dalam kebijakan publik.
Di sudut bazar, seorang ibu rumah tangga tampak menghitung ulang isi keranjangnya. “ Biasanya segini bisa lebih mahal,” katanya lirih, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Senyum kecilnya menjadi penanda bahwa kebijakan, ketika menyentuh kebutuhan paling dasar, akan selalu menemukan jalannya ke hati rakyat.
Namun, di balik keramahan bazar, ada pesan kritis yang mengemuka. Ketergantungan pada pasar bebas tanpa intervensi sering kali membuat masyarakat kecil berada di posisi rentan.
OVOP hadir sebagai jawaban: memperkuat produksi nagari, memotong rantai distribusi, dan menempatkan petani lokal sebagai tulang punggung ketahanan pangan.
Bagi Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani, bazar ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah pernyataan arah. Bahwa pembangunan tidak melulu soal beton dan angka pertumbuhan, melainkan tentang memastikan pangan terjangkau, petani berdaya, dan ekonomi nagari tumbuh dari akarnya sendiri.
Pelaksanaan transaksi melalui sistem virtual OLIN Bank Nagari menegaskan satu hal lain, tata kelola. Transparan, tertib, dan beradaptasi dengan zaman. Modernisasi tak lagi harus menjauh dari rakyat, sejatinya ia justru harus mendekat.
Ketika siang merambat naik dan bazar perlahan usai, yang tersisa bukan hanya kantong belanja yang penuh. Ada optimisme kecil yang dibawa pulang warga Dharmasraya yakni bahwa negara, dalam wujud pemerintah daerah, masih bisa hadir di meja makan mereka.
Di sanalah OVOP menemukan maknanya, bukan hanya sekadar satu nagari satu produk, melainkan satu kebijakan yang berpihak kepada rakyat, satu harapan yang terus tumbuh dari tanah sendiri dan bukan sebaliknya. ***



Discussion about this post