BERBAGI
Arief Noor Aisyah

Oleh : Arief Noor Aisyah (Mhs Universitas Negeri Yogyakarta)

Tahun 2019 Indonesia akan bersuka cita untuk merayakan pesta demokrasi pemilihan presiden. Pesta demokrasi untuk menentukan orang nomor 1 di Indonesia ini dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Pesta demokrasi selalu menjadi kajian yang hangat dan tak henti-hentinya diperbincangkan. Mulai dari kandidat calon pemimpin dan wakilnya, partai yang mendukung di belakangnya, serta partai yang berkoalisi untuk memperebutkan kursi legislatif nantinya.

Pesta demokrasi tidak hanya dirayakan oleh calon-calon kandidat terpilih, partai yang mendukung di belakangnya, ataupun para pejabat yang duduk di kursi pemerintahan. Akan tetapi, seluruh masyarakat Indonesia yang memiliki hak suara harus turut serta merayakan pesta demokrasi untuk memilih calon pemimpinnya. Dalam pesta demokrasi seorang pemimpin akan dipilih secara langsung oleh rakyat Indonesia. Hak kebebasan mutlak diberikan kepada siapa saja yang memiliki hak suara dalam pemilihan.

Pesta demokrasi rakyat selain menimbulkan kesatuan dan persatuan bagi sesama pendukungnya, dapat menjadi peretak bagi pendukung yang lainnya. Gejolak para pendukung kandidat calon pemimpin menyebabkan ketidakstabilan dalam melaksanakan tata penyelenggaraan negara.  Upaya saling serang antar pendukung kandidat calon pemimpin dapat menyebabkan kebencian dan menimbulkan permusuhan. Bahkan tak jarang, para pendukung akan saling melempar fitnah dan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan di dalamnya.

Salah satu komponen dan kategori pendukung kandidat calon pemimpin adalah para pemilih pemula. Pemilih pemula adalah sebutan bagi mereka yang baru pertama kali melakukan hak pilihnya. Hak suara pemilih pemula nantinya akan sangat mempengaruhi hasil dari pemungutan suara. Menurut data KPU pada pemilu 2014, jumlah pemilih pemula pada rentang usia 17-20 tahun sebanyak 14 juta orang. Menurut catatan demografi, pesta demokrasi rakyat pada tahun 2019 akan kembali didominasi oleh para pemilih pemula dimana usia produktif akan lebih banyak daripada usia para lansia.

Pemilih pemula akan menjadi sasaran pemilu pada pesta demokrasi rakyat tahun 2019. Oleh karena jumlah peserta pemilih pemula yang banyak, maka perlu diadakan sosialisasi pentingnya peran pemilih pemula dalam menentukan siapa pemimpin Indonesia di masa mendatang. Besarnya harapan negara kepada para pemilih pemula menjadikan seorang pemilih pemula harus bijak dalam melakukan pemilihan. Bagi sebagian pemilih pemula, pesta demokrasi rakyat ini hanya diartikan sebagai upaya mereka untuk mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan melakukan pemilihan kandidat calon yang disukainya saja. Tak jarang, bagi sebagian pemilih pemula hak suara yang diberikan tidak dimaksimalkan karena mereka tidak memilih.

Sebagai generasi yang cerdas, dewasa ini para pemilih pemula dituntut untuk berpikir kritis dalam menentukan pilihannya. Harapan bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang maju dan lebih berkembang ada di tangan para pemilih pemula. Antusiasme kedatangan para pemilih pemula ke tempat pemungutan suara harus diimbangi dengan pengetahuan mereka dalam memilih kandidat calon pemimpin. Sekarang bukan lagi jamannya, para pemilih pemula menentukan pilihannya hanya karena iming-iming imbalan yang diberikan kandidat calon pemimpin yang didukungnya atau memilih untuk menjadi golput karena kurangnya informasi yang di dapat mengenai kandidat calon pemimpin. Pemilih pemula tidak lagi hanya menjalankan peran untuk datang ke TPS dan melakukan pemlihan. Akan tetapi, kesadaran berpolitik para pemilih pemula juga harus ditingkatkan. Latar belakang kandidat calon pemimpin yang dipilihnya harus benar-benar diperhatikan. Jangan sampai hanya karena terhasut pencitraan di depan publik, seorang pemilih pemula salah dalam menentukan pilihannya. ***

LEAVE A REPLY