BERBAGI

Bukittinggi. R.Investigasi- H.M.Noor Roosly (90), salah seorang anak Syekh Sulaiman Arrasuli,pendiri Madrasah Tarbiyah Islamiah (MTI) Canduang, Agam,dan sempat meneruskan usaha ayahnya, meninggal dunia Minggu (22/12) lalu di Jakarta.

Setelah pensiun dari Departemen Agama (waktu itu), M.Noor Roosly menurut Rita Noor, salah seorang anaknya, walau tidak lansung ikut mengelola, karena merasa ikut bertanggungjawab untuk terus menjaga warisan dari ayahnya, sering bolak-balik dari Jakarta, tempat tinggal ke Canduang.

“Papa waktu itu sering melihat langsung, berkonsultasi sampai.memberikan masukan kepada pimpinan pondok agar salah satu madrasah tertua, didirikan tahun 1908, tetap menjaga eksistensinya sebagai pendidikan agama yang telah banyak melahirkan lulusan berhasil di bidang, bahkan sampai ke negara tetangga”, tambah Rita.

Ketika merasa sudah benar-benar siap, M.Nur Rusli juga bahkan sempat menjadi Kepala Madrasah. Namun menurut Rita, karena kondisi kesehatan yang kian menurun, setelah empat tahun kemudian, jabatan itu akhirnya diserahkan kepada kemenakannya DR.Syukri Iska MA
Rita menambahkan, dalam kondisi sakit yang cukup lama diidap papanya, pikiran dan perhatian beliau tidak pernah lepas dari MTI Canduang.

“Beliau sering bertanya tentang madrasah peninggalan ayah beliau tersebut”, kenang Rita Dengan meninggalnya H.M.Noor Roosly, berarti itulah generasi langsung dari pendiri MTI Canduang, yang sampai kini masih tetap mampu melaksanakan pendidikan dengan sistim pondok pesantren dan diminati oleh santri dari berbagai daerah di Indonesia.
Mulai Dari Surau Sebagai seorang ulama yang merasa bertanggungjawab mengembangkan agama Islam, Sjech Sulaiman Arrasooly, tahun 1908 sudah mengajarkan membaca Alquran dengan sistim Halaqah di surrau Baru kepada masyarakat Canduang dan sekitarnya.

Karena peminatnya bertambah banyak, bahkan berdatangan dari luar daerah, Sjech Soelaiman Arrasooly bertemu dengan ulama lain Sjech Djamil Djambek, Sjech Abbas serta Demang Bukittingg.

Dari pertemyan disimpulkan perlunya menyatujan sekolah atau surau di daerah ini. Kemudian ulama dan demang tersebut sepakat pula untuk membuat sebuah sekolah agama lebih modern yang menyaingi sekolah pemerintah berupa Madrasah atau Pondok Pesantren
Maka dari sinilah berdirilah Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang yang ternyata mendapat sambutan luas sampai ke berbagai daerah bahkan sampai ke semanjung Malaya dan Muangthai.

Dari salah satu madrasah atau pondok pesantren ini, yang telah meluluskan puluhan ribu santri, tidak hanya berhasil sebagai ulama dan bidang lain termasuk di pemerintahan
Sepeninggalnya ulama kharismatik tersebut, MTI Canduang pengelolaannya oleh anak-anak beliau, termasuk HM.Noor Roosly. pon

LEAVE A REPLY