BERBAGI

Nuwon Sewu. Maafkan jika judul diatas terbaca tidak etis jika saya harus menyebut kata “Tolol” untuk menyebut seorang yang bernama “Abu Janda” (Bapaknya Janda). Menurut saya sebutan itu tepat dan sepadan untuk disetarakan dengan sebutan “Abu Jahal” (Bapak Ketololan) tokoh Quraisy di masa Rasulullah.

Toh, di masa Rasulullah, sebutan “al-Jahal” juga yang disematkan pada tokoh yang tidak pernah melihat kebenaran secara objektif. Padahal nama sesungguhnya sangat bagus, Amru bin Hisyam al-Mughirah al-Makhzumi yang masih keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim.

Tapi kebutaan hatinya terhadap cahaya kebenaran membuatnya malah bangga dengan sebutan “Abu Jahal” persis dengan nama “Abu Janda al-Boliwyood” yang lagi numpang tenar. Jadi tak apalah saya sebut “Abu Janda al-Jahiliy” saja.

“Tololnya Abu Janda al-Jahily” ini bukan lantaran IQ-nya jongkok, bukan pula idiot, tapi lantaran dia ngeyel dengan kedunguannya dan tidak pernah bisa melihat permasalahan secara subjektif. Ditambah dengan sikapnya yang terlihat sangat konyol di medsos setahun belakangan ini yang kemudian melambungkan namanya sebagai tokoh kontraversial hater Islam. Saya kira ini fakta yang bisa kita lihat.

Mengapa saya harus mengatakan “Tolol” sebab term ini menurut saya tepat untuk menjawab pertanyaan yang diajukannya tadi malam pada acara ILC tentang statement bahwa menurutnya “Hadits itu baru ada 200 tahun setelah masa wafatnya Nabi Muhammad” dan lagi menurutnya “Tidak semua hadits bisa dijadikan landasan hukum” kurang lebih begitu pernyataannya.

Saya khawatir statement ini bisa jadi juga secara implisit sebuah sikap anti-pati terhadap hadits dan hukum Islam itu sendiri atau dalam istilah agamanya disebut “Inkar Sunnah”. Hati-hati saja! Statement ini bisa berbahaya bagi orang awam, karena akan membuka peluang tasyabuh (kerancuan) bagi orang yang menelan mentah-mentah pernyataan tololnya tersebut.

Saya tidak tahu harus menyebut apa sejenis orang semacam ini, selain apa yang telah saya sebutkan diatas tadi. Orang ini jelas tidak paham sama sekali tentang sejarah perkembangan ilmu hadits. Apalagi keilmuan tentang Musthalah al-Hadits. Nol besar seperti ucapannya tong kosong yang nyaring bunyinya, hehe..

Baik, saya akan langsung pada point pembahasan. Saya tidak ingin banyak mengkritik atau meluruskan “Abu Janda al-Jahiliy” ini, karena tidak ada yang bisa diluruskan atau dikritik lagi dari seluruh total ketotolannya. Kita doakan semoga bersangkutan wafat husnul khatimah saja. Amin.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak kita semua yang waras untuk berpikir untuk sama-sama belajar memahami landasan hukum agama ini agar kita tidak mudah dibodohi dengan statement-statement para kelompok “Abu Jahal” tersebut.

Baik, pertanyaan pertama: Kapan Hadits itu Mulai Ada?

Hadits adalah sebuah term khusus yang merujuk ucapan (aqwal), perbuatan (af’al), Nabi Muhammad shallallahhu ‘alahi wassalam, maupun taqrir;-nya dimana beliau tidak berkomentar, diam, dan tidak pula melarangnya sebagai bentuk persetujuannya.

Jadi dengan demikian, awal mulanya hadits itu ya semenjak Rasulullah itu diangkat sebagai nabi dan rasul pada rentang usia 40 tahun. Hadits pertama kali yang diriwiyatkan dalam sejarah Islam adalah hadits tentang peristiwa turunnya wahyu Iqra’ di gua Hira. Oleh karena itulah, Imam Bukhari menempatkan hadits “Awwalu maa Nuzila al-Wahyi” (hadits peristiwa turunnya wahu) pada urutan hadits pertama di dalam kitab Shahih Bukhari-nya.

Pada perjalanannya selanjutnya, apapun yang menjadi ucapan, perbuatan, maupun sikap diam Nabi dikategorikan sebagai hadits atau sunnah. Pada masanya hadits hanya diperdengarkan dan disimak dari ucapan Rasulullah secara langsung, dihapalkan, dan disampaikan melalui mata rantai periwayatan dari sahabat kepada sahabat yang lainnya hingga mas tabi’en dan tabiut tabien.

Para sahabat juga memperhatikan dengan seksama segala tingkah laku Rasulullah shallahu alahiwassalam, kemudian mereka menirunya dan mempraktekkannya, mengamalkannya dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari. Posisi kedudukan hadits setara dengan wahyu al-Qur’an, karena keduanya sama-sama merupakan sumber hukum bagi agama Islam.

Pada masa Rasulullah memang hadits belum lagi dituliskan secara menyeluruh, namun hanya sebatas dihapalkan. Periode ini disebut dengan istilah “Talqin”; dimana hadits hanya sekedar diperdengarkan dan diriwayatkan dari mulut ke mulut. Sedangkan masa dimana hadits telah dibukukan disebut dengan istilah periode “Tadwin”.

Apakah di Masa Rasulullah Tidak Ada Hadits yang Dituliskan?

Pada masanya, Rasulullah memang melarang para sahabat menuliskan hadits, sebab akan dikhawatirkan hadits-hadits tersebut akan bercampur aduk dengan al-Qur’an yang juga turun pada masa itu. Dalam sebuah hadits yang populer ada sebuah riwayat yang menyatakan:

“Janganlah kalian menuliskan hadits dariku. Jika ada yang menuliskan, maka hendaknya ia menghapusnya.” (HR. Muslim)

Meski ada larangan menuliskan hadits, bukan berarti pada masa Rasulullah, tidak ada satu pun hadits yang dituliskan. Anjuran agar tidak menuliskan hadits bertujuan sebuah upaya preventif agar hadits tidak tercampur dengan al-Qur’an yang juga turun dan dihapalkan pada ketika itu. Namun, sekali lagi perlu diingat bahwa larangan ini bersifat umum.

Sebab ada diantara para sahabat yang memahami bahwa anjuran agar tidak menuliskan hadits dalam pengertian bahwa penulisan al-Qur’an haruslah diprioritaskan.

Artinya apa?

Artinya, boleh saja menuliskan hadits, jika penulisan al-Qur’an sudah selesai dikerjakan. Hal ini menunjukkan kesungguhan para sahabat dalam menjaga kemurnian dan keotientikan al-Qur’an dan hadits nabi sebagai sumber hukum Islam. Begitulah yang disampaikan oleh Abu Hasan an-Nadawi; seorang ulama pakar hadits kontemporer.

Siapa Saja Para Sahabat yang Telah Menuliskan Hadist Pada Masa Rasulullah?

Diantara para sahabat yang menuliskan hadits pada masa Rasulullah, diantaranya:

Pertama: Abdullah bin Umar bin Ash yang menuliskan hadits pada lembaran yang diberi nama “Shahifah as-Shadiqah” yang kemudian disimpan oleh cucunya Amru bin Syuaib. Imam Ahmad bin Hanbal pun banyak meriwayatkan hadits dari shahifah ini.

Menurut sebuah riwayat diceritakan, bahwa orang-orang Quraisy mengeritik sikap Abdullah ibn Amr, karena sikapnya yang selalu menulis apa yang datang dari Rasulullah. Mereka mengatakan: “Engkau tuliskan apa saja yang datang dari rasulullah, padahal rasul itu manusia, yang bisa saja bicara dalam keadaan marah”. Kemudian kritikan itu disampaikan kepada rasulullah dan Rasul menjawabnya dengan mengatakan:

“Tulislah! Demi zat yang diriku berada di tangan-Nya,tidak ada yang keluar daripadanya kecuali yang benar”. (HR. Bukhari)

Hadits-hadits yang terhimpun dalam catatannya ini sekitar seribu hadits, yang menurut pengakuanya diterima langsung dari Rasulullah ketika mereka berdua tanpa ada orang lain yang menemaninya.

Selain itu masih ada lagi beberapa orang lagi, seperti:

Kedua: Ali bin Abi Thalib pun membuat catatan kecil berisi hadits Nabi shallallahu alaihi wassalam. Hadits ini juga banyak diambil oleh Imam Bukhari.

Ketiga: Sa’ad bin Ubadah pun memiliki shahifah tentang hadits-hadits yang ia kumpulkan dan tuliskan pada masa Rasulullah. Hadits itu banyak dikutip juga oleh at-Turmidzi.

Sebenarnya masih banyak dan tidak bisa saya sebutkan di sini satu persatu. Sebab saya hanya memberikan contoh bagi si “Abu Janda al-Jahily” bahwa betapa tololnya dia tidak pernah mengetahui tentang sejarah ilmu hadits ini.

Tentu jika si “Abu Janda al-Jahily” pernah mendapati fakta sejarah bahwa pada masa Rasulullah hadits sudah dituliskan oleh beberapa orang sahabat tertentu, tentu dia tidak akan mengatakan bahwa hadits adanya 200 tahun setelah wafatnya Rasulullah. Hadits sudah ada dan telah dicatat pada masanya Rasulullah, ya bro Janda!

Bagaimana mungkin dia bisa ber-omong kosong dan berfantasi bahwa hadits baru ada dibukukan pada 200 tahun setelah wafatnya Rasulullah, sedangkan pada masa Rasulullah sendiri sudah tercatat dalam sejarah deretan beberapa orang sahabat yang telah menuliskan hadits itu sendiri. Sungguh sangat tolol kuadrat alias jahil murakkab dalam istilah tradisi anak pesantren zaman old 😀

Selanjutnya, usaha pembukuan yang kemudian dikenal dengan istilah periode “Tadwin” diawali sejak abad ke 3 H. Langkah utama dalam masa ini diawali dengan pengelompokan Al Hadits. Pengelompokan dilakukan dengan memisahkan mana Al Hadits yang marfu’, mauquf dan maqtu’.

Nah, jadi jika yang dimaksudkan oleh “Abu Janda al-Jahiliy” bahwa hadits baru ada setelah 200 tahun wafatnya Rasulullah, tentu ada ruang otak memorinya yang kosong dengan pengetahuan sejarah atau boleh jadi ada loncatan cara berpikir yang tidak teratur dan tersistem dengan baik dan sehat.

Terakhir saya ingin mengomentari karakter semacam ”Abu Janda al-Jahily” seperti pesan yang pernah diwasiatkan oleh Imam al-Ghazali kepada muridnya di dalam kitab “Ayyuhal Walad”.

“Ketahuilah wahai anakku, diantara dua penyakit yang tidak bisa selamanya disembuhkan adalah, pertama: penyakit yang disebabkan oleh ketololan; orang bodoh yang merasa pintar, kedua: orang yang hatinya diliputi oleh iri dengki dan dendam kemarahan, sehingga mata hatinya tertutup oleh cahaya kebenaran.”

✍ Oleh:  Ust. Dr. H. Miftah el-Banjary, MA

Pembicara Publik | Dosen Pasca Sarjana | Alumnus Prog. Doktoral Bahasa & Sastra Arab di Arab League Institute Cairo-Mesir | Penulis 11 buku laris Nasional.

LEAVE A REPLY