BERBAGI

PARIAMAN, REPORTASEINVESTIGASI.com

Menyoal profesionalisme pelaksana kegiatan dalam melangsungkan pekerjaan proyek konstruksi pembangunan sebuah gedung, tidaklah sembarangan. Lantaran tak banyak penyedia jasa yang sanggup menyediakan jasanya untuk melangsungkan pekerjaan konstruksi pembangunan gedung. Manajemen mutu merupakan tolak ukur agar progres pekerjaan dan kualitas konstruksi, terjamin.

Sebetulnya, apa yang sedang dikerjakan PT Sumber Midya Karya dalam melaksanakan kegiatan proyek yang berjudul Pembangunan Gedung Kantor Pariwisata, sangatlah komunikatif dan apresiatif. Sebab, tanpa ada jalinan komunikasi yang baik kepada pekerja dan seluruh tim yang terlibat maupun segala unsur di luar itu, serta seiring dengan kesadaran yang menjadi prinsip Indra sang direktur, mustahil pekerjaan pembangunan gedung kantor pariwisata itu semakin hari kian memperlihatkan peningkatan progresnya.

Sama halnya dengan perusahaan penyedia jasa lainnya yang mengedepankan profesionalitas dalam bekerja. PT Sumber Midya Karya di bawah kendali direktur Indra, mengaku sangat antipati untuk “meminjamkan” perusahaannya kepada oknum kontraktor yang ingin “menyewa” jasa perusahaannya, sekalipun itu atas kuasa direktur. Karena menurutnya, keuntungan yang dia terima tidak sepadan dengan resiko dari “sewa rental” yang dihadapi.

Alasanya pun cukup logis, lantaran tak semua kontraktor bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Begitu pun dengan kegiatan yang didapatkannya sekarang, meski berdomisili Bukittinggi, jam terbang PT Sumber Midya Karya ini sudah sampai ke mana-mana. Tak heran PT Sumber Midya Karya dipercayakan melaksanakan kegiatan proyek pembangunan gedung pariwisata di Pariaman.

“Jangankan ke Pariaman, lintas propinsi kita sudah pernah bekerja. Itu semua saya sendiri yang turun tangan, tidak ada istilah saya merentalkan perusahaan ke kontraktor lain, yang ada cuma join. Jadi sistimnya ada rekan kontraktor yang mau membantu kita di lapangan, seperti pelaksanaan pembangunan gedung pariwisata ini. Ada kontraktor lain di lapangan selain saya, itu sifatnya membantu, tetap kendali dan keputusan ada pada saya,” sebut Indra menanggapi pemberitaan media ini beberapa waktu lalu.

Sementara mengenai gambar lantai kerja yang tampak hancur, itu disebabkan oleh kelalaian pekerja saat melangsungkan pekerjaan, “Bukan karena adukan semennya yang kurang. Itu terjadi karena kesalahan pekerja, namanya juga konstruksi bangunan banyak memakai pembesian dan benda-benda berat lainnya dengan volume yang cukup berat. Tak sengaja jatuh tertimpa lantai kerja. Yang pasti kita bekerja sesuai gambar dan spek, utamanya menjaga mutu, karena menyangkut keutuhan gedung yang akan ditempatkan oleh banyak orang,” jelas Indra.

Selain itu, masih kata Indra, mengenai pembesian. Di dalam RAB ada 2 spesifikasi besi yang diminta dengan uraian pekerjaan yang berbeda-beda pula. “Jadi ada 2 macam spesifikasi pembesian pemakaian besi begol (sengkang), ada uraian pekerjaan yang menggunakan besi 8 mm dan ada yang menggunakan besi 10 mm. Begitu juga dengan ulir. Jelasnya mengenai pembesian memenuhi kadar uji tarik besi,” paparnya.

Indra mengklaim untuk pekerjaan struktur bangunan dirinya menerapkan sistim manajemen mutu, karena kekuatan struktur sangat menentukan kekuatan bangunan. IDM

LEAVE A REPLY