BERBAGI
Barangkali anekdot tentang kekritisan masyarakat Padang Pariaman saat ini bukanlah ancaman yang mampu menjegal lajunya pembangunan. Sebab, kritikan atau adu gagasan menurut penulis justru merupakan buah dari kemajuan berdemokrasi, kemajuan berdemokrasi itu tentu akan menciptakan pembangunan SDM yang berkualitas

 

TAROK CITY bagi seluruh kalangan masyarakat di Kabupaten Padang Pariaman, memang tak asing lagi didengar. Berbagai rangkaian peristiwa menyangkut nama Tarok City yang telah berlangsung, sepertinya akan terus berlanjut.

Karena sejatinya, kompleksitas permasalahan yang terkandung di dalam Tarok City cukup kontroversi. Baik itu segi politik, hukum, birokrasi, adat (ulayat), dan semua itu saling berbenturan antara satu dengan yang lain.

Tarok City punya alur cerita yang identik dengan sebuah polaritas. Sebab dialektika dari kata Tarok City, merupakan gabungan dua kosakata, antara Tarok dan City. Yakni dua kosakata yang mengandung unsur kontradiksi. Tak jauh dari kodratnya.

Pengertian dari kata Tarok, seyogianya adalah nama sebuah kawasan atau wilayah (korong) setingkat dusun (sinonim dusun, KBBI : kampung; pelosok; udik; pedalaman), dimana kedudukannya dalam struktur birokrasi berada di bawah nagari, yang bernama Nagari Kapalo Hilalang, Kecamatan 2 X 11 Kayu Tanam.

Sementara City bersifat paradoks. Artinya, City memiliki referensi yang bertolak belakang dengan Tarok. City dengan englishnya, adalah sebuah kota padat penduduk dengan tata kota yang sudah terkondisikan dengan baik. Contoh City di Indonesia adalah Jakarta, Bandung ataupun Bogor, kota-kota besar dan terkenal di Indonesia.

Korong Tarok lazimnya merupakan sebuah kawasan di Kabupaten Padang Pariaman, yang terisolasi oleh topologi hutan. Sejatinya Korong Tarok memiliki fungsi sebagai tempat resapan air. Karena keefektifan hutan Tarok yang tak lain merupakan daerah penahan dan area resapan air. Berkat hutan Tarok lah, 28% populasi di Kabupaten Padang Pariaman dialiri oleh air yang berasal dari hulu air Tarok. Terutama bagi mereka yang menggantungkan hidup di bidang pertanian dan perikanan.

Analogi dari program pembangunan Tarok City itu tak ubahnya mengacu pada program “anomali project non-prosedural”. Baik itu diartikan secara harfiah maupun literatur. Ya, bagai mimpi di siang bolong. Karena memang pada hakekatnya, tak ada di belahan bumi manapun konotasi “membangun surga di dalam neraka” seperti itu pernah terjadi.

Apakah ada kota yang padat penduduk berikut dengan tata kotanya yang metropolis, berada di tengah-tengah kampung yang udik? Mimpi? Ya, memang (pe)mimpi besar.

Terlepas dari semua itu, penulis mengapresiasi mimpi besar yang tercetus dari seorang pemimpin negeri yang “kecil” ini. Negeri Padang Pariaman, yang mana saat ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, pertumbuhan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) periode 2015-2016 di Padang Pariaman masih tergolong “kecil”, peringkat 11 dari 19 kabupaten/kota Sumatera Barat.

Kendati begitu. Upaya tak patah arang dalam memperjuangkan proyek ambisius Tarok City menuju kawasan sentral pembangunan, patut disupport. Retorika pemimpin negeri ini mengimajinasikan ambisinya dalam meningkatkan taraf pembangunan daerah, tak ada yang salah.

Sebagai masyarakat yang peduli terhadap perkembangan pembangunan. Toh kalau pun iya, jika pada nantinya mimpi besar itu terwujud. Proyek pembangunan Tarok City itu sukses, hingga menghantarkan daerah ini menjadi daerah produktif. Pastinya dampak Multiplier Effect dari berbagai sektor yang ada, bakal dinikmati masyarakat sendiri, bukan?

Namun yang patut diingat! Tarok bukanlah sarok (Kamus Minang : sampah). Seperti bengkalai pembangunan yang tergolong mega proyek yang pernah dilangsungkan. Tak perlu penulis sebutkan pembangunan-pembangunan di Padang Pariaman itu yang sampai sekarang masih menjadi sarok pembangunan.

Kegamangan terhadap pembangunan Tarok dikhawatirkan tersilap menjadi proyek sarok, adalah hal yang lumrah. Selain berujung sengsara bagi penguasa, juga berdampak pada kelangsungan pertumbuhan pembangunan di masa depan. Tentu jikalau proyek tersebut terhenti, tampuk kepemimpinan pun berganti, jangan harap bakal ada lagi program pembangunan Tarok City.

Pemimpin juga janganlah salah kaprah, berpikiran dangkal dengan mengartikan gencarnya kritikan dan sorakan-sorakan (demo) dari masyarakat, dianggap sebagai musuh pembangunan.

Barangkali anekdot tentang kekritisan masyarakat Padang Pariaman saat ini bukanlah ancaman yang mampu menjegal lajunya pembangunan. Sebab, kritikan atau adu gagasan menurut penulis justru merupakan buah dari kemajuan berdemokrasi, kemajuan berdemokrasi itu tentu akan menciptakan pembangunan SDM yang berkualitas.

Terlebih hidup di Minangkabau, Sumatera Barat, khususnya Padang Pariaman yang masih kental dengan ranji-ranji kekeluargaannya. Karena Minangkabau dan demokrasi adalah sebuah keselarasan yang hakiki. Minangkabau dan demokrasi sama-sama punya kesamaan, tak akan pernah bisa bertahan hidup dengan langgam pinang nan sabatang. Namun dengan menjaga relasi bak aua nan sarumpun.

Zulbahri simbol perlawanan Tarok City?

Tak ubahnya menghadapi Zulbahri yang barangkali terkenal kritis terhadap program Tarok City, seiring aksi yang dihimpunnya. Mengakhiri kekritisan Zulbahri sebagai masyarakat Padang Pariaman, khususnya dalam memperjuangkan hak kaum kerabatnya di Tarok, dapat ditaklukan dengan sebuah pembuktian. Bukan upaya teror! Jawaban teror untuk menghadapi masyarakat seperti Zulbahri, jauh dari kata solusi.

Lagi pula, kekritisan masyarakat Tarok, Kayu Tanam saat ini, sesuai dengan tempat dan koridornya. Kekritisan mereka merupakan simbol ketakutan yang luar biasa mengenai kelangsungan hajat hidup untuk cucu-anak-kemenakannya, kelak. Sederhana saja bagi mereka karena, Tarok bukanlah sarok!

Yang jelas dan patut dimengerti. Kritis tak selalu dapat diartikan dengan kebencian pribadi. Kata bijak mengatakan, “Teman yang baik, bukanlah teman yang membenarkan perkataan kita, melainkan orang yang berkata benar”. Jadikan konsep pembangunan Tarok City, laksana bumi sanang padi manjadi, taranak bakambang biak. Sesuai dengan konsep ajaran Islam : Baldatun Taiyibatun wa Rabbun Gafuur. 

IDM

LEAVE A REPLY