BERBAGI

JAKARTA, REPINVESCOM

Beredar kabar meninggal Jefri Bulek Siregar, salah seorang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang terlibat aksi keprihatinan di depan Istana Negara pada Senin (21/5/18) lalu.

Kabar duka ini diketahui dari postingan akun Facebook milik Elfiandri Chaniago.

“Innalillahi wainna illahi rajiun.. Adinda aktivis HMI MPO Jefry Bulek Siregar yang dianiaya oleh oknum Polri akhirnya Meninggal dunia. Allahumma firlahu warhamhu waafini waafuanhu. Semoga engkau menjadi syuhada di hadapan Allah SWT dan oknum polisi tersebut jika lepas dari hukum negeri ini tuntutlah keadilan dihadapan yang maha adil, Amin ya Robbal Alamiiin. Polri harus bertanggung jawab melayangnya nyawa anak bangsa atas tindakan biadab dan tidak berperikemanusiaan. HMI bergeraklah menuntut keadilan!!!”

Demikian penggalan status akun Facebook milik Elfiandri Chaniago yang diunggah hari ini (Jumat, 25/5/18).

Begitupun dengan postingan dari akun Facebook Rahma Ayu yang mengunggah gambar perlakuan penganiayaan dari aparat kepolisian yang diduga buntut dari aksi yang digalang di depan Istana.

Postingan akun Facebook Rahma Ayu

“Indonesia berduka… Inalillahi wa innalillahi rojiun, mahasiswa yang dianiaya aparat saat demo 20-5-18 di depan Istana meninggal dunia.”

Belum diketahui pasti ada tidaknya keterkaitan kabar meninggal Jefri ini dengan  penanganan aparat polisi dalam aksi prihatin HMI.

Jefri diketahui menjadi salah satu korban pemukulan aparat kepolisian saat terjadi kericuhan yang dipicu pembakaran ban.

Aksi prihatin HMI tersebut bertepatan peringatan 20 tahun reformasi bergulir.

Namun dirangkum dari sejumlah pemberitaan media daring, seperti yang media kutip dari detikcom yang merilis informasi terkait dengan hal tersebut.

Polisi meluruskan informasi hoax atau kabar bohong di media sosial soal adanya anggota HMI bernama Jefri Bulek Siregar yang meninggal karena dipukul polisi. Menurut polisi, Jefri meninggal karena sakit.

Di media sosial dan aplikasi percakapan WhatsApp beredar isu soal anggota HMI MPO meninggal dunia seusai mengikuti aksi yang berakhir ricuh di depan Istana pada Senin (21/5) lalu. Polisi memastikan kabar itu tidak benar.

“Sehubungan dengan beredarnya foto-foto terkait meninggalnya salah satu peserta aksi di depan Istana Negara, maka terkait hal tersebut tidak benar,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dalam keterangannya, Jumat (25/5/2018).

Argo menerangkan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Ada salah seorang anggota HMI bernama Irfan Maftuh yang dikabarkan meninggal. Namun menurut Argo Irfan masih dalam kondisi sehat dan menjalani rawat jalan.

“Sampai saat ini saudara Irfan Maftuh baik -baik saja dan masih rawat jalan,” papar dia.

Sementara itu, Argo juga menyampaikan memang ada salah seorang anggota HMI yang meninggal dunia di Medan. Namun itu sama sekali tak terkait dengan aksi yang digelar di Istana beberapa hari yang lalu.

“Jefri Bulek Siregar meninggal karena sakit, bukan karena ikut aksi apalagi dipukuli polisi,” ucap dia.

Sebelumnya diberitakan, demo HMI MPO dalam memperingati 20 tahun Reformasi berakhir ricuh. 7 orang mahasiswa mengalami luka dan sempat dirawat di RSUD Tarakan.

Demo digelar di pintu silang Monas Barat Laut depan Istana pada Senin (21/5). Jumlah massa yang mengikuti unjuk rasa itu sekitar 25 orang.

Ada 3 tuntutan yang disampaikan massa aksi. Pertama, mereka meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencopot Kapolri Jenderal Tito Karnavian terkait adanya aksi teror yang terjadi belakangan ini.

Kedua, massa meminta Jokowi mengganti Kepala BIN Budi Gunawan. Ketiga, massa menuntut Jokowi-JK mundur dari jabatannya karena dinilai gagal menjalankan tugas.

Aktivis HMI MPO Jefry Bulek Siregar diduga tewas akibat penganiayaan

(mei/hri/rmol.co/beraninews)

LEAVE A REPLY