BERBAGI
Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta (Photo : IG @2018asiangames)

NASIONAL, REPINVESCOM

Nama Bung Karno bakal hilang dari Istora Senayan. Pasalnya Stadion Gelora Bung Karno (GBK) dijual dan berubah nama menjad Blibli Arena.

Chief Executive Officer (CEO) Blibli.com, Kusumo Martanto membenarkan pergantian nama GBK menjadi Blibli Arena.

“Perubahan nama Istora Senayan menjadi Blibli Arena menunjukkan totalitas kami untuk mendukung semua kegiatan positif masyarakat Indonesia,” ujar Kusumo di Jakarta, Senin (7/5).

Perubahan nama dari Istora Senayan menjadi Blibli Arena merupakan bentuk penyambutan turnamen Indonesia Open 2018 yang akan berlangsung di tempat tersebut pada 3-8 Juli mendatang.

Turnamen bulu tangkis kelas superseries tersebut kini disokong Blibli.com sebagai sponsor utama, menggantikan Bank Central Asia (BCA) pada Indonesia Open tahun lalu. Dengan demikian, turnamen Indonesia Open tahun ini memiliki nama resmi Blibli Indonesia Open 2018.

“Kami memiliki visi dan misi untuk memberdayakan Indonesia dan mendukung anak muda untuk berprestasi dengan melakukan kegiatan yang positif seperti olahraga bulu tangkis,” tutur dia.

Gedung olahraga yang dibangun pada 24 Agustus 1962 itu memiliki nama resmi Istana Olahraga Gelora Bung Karno. Namun, tempat itu lebih dikenal dengan nama Istora Senayan.

Jelang Asian Games 2018, tepatnya pada September 2016, Istora Senayan direnovasi menjadi lebih modern. Pengerjaan renovasi tuntas pada Januari 2018.

Sebelum direnovasi, Istora dapat menampung sekitar 10.000 penonton. Kursi panjang kayu yang dulu terpasang kemudian diganti dengan kursi single seat sehingga kapasitasnya berubah menjadi 7.120 penonton.

Tak hanya kursi penonton yang berubah, tetapi juga pencahayaan lapangan. Dulu Istora hanya menggunakan lampu gantung.

Kini, dengan teknologi baru, lampu bisa bergerak naik-turun pada ketinggian 9-12 meter dan dapat diatur sesuai kebutuhan. Selain itu, Istora kini dilengkapi pendingin ruangan tipe AHU yang telah disesuaikan dengan corong udara di sisi-sisi atap. Dengan demikian, pendingin ruangan tidak akan memengaruhi arah kok saat di udara.

Sebelumnya, juga Ustad Yusuf Mansur mencoba untuk membeli Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Dirinya dilaporkan ingin membeli nama atau mem-branding SUGBK. Yusuf Mansur berencana untuk menghidupkan stadion dengan nama perusahaan, seperti halnya Etihad Stadium.

Yusuf Mansur membantahnya dan memberikan penjelasan mengenai rencananya mem-branding SUGBK. Yusuf mengatakan melalui akun Instagram pribadinya, kalau ia tidak bermaksud mengganti nama SUGBK sepenuhnya.

“Dalam percaturan bisnis internasional, jika ada perusahaan diakuisisi, maka kemungkinan besar namanya bisa berubah. Terkadang nama lama dan baru akan disandingkan,” tulis Yusuf Mulai Aktif.

Tahun 2018 ini, Yusuf Mansur mulai merambah ke dunia persepakbolaan Indonesia. Setidaknya Yusuf Mansur telah mengelola empat klub yang berkompetisi di klub Liga 2 dan Liga 3 Indonesia. Klub-klub tersebut adalah Persikota Tangerang, Persika Karawang, Malang United, dan Persikabo Kabupaten Bogor.

Asal Mula Nama GBK

Tahun ini, Indonesia kembali menjadi tuan rumah event olahraga terbesar di Asia, Asian Games. Untuk menyambut gelaran ke-18 perlombaan berbagai cabang olahraga antarnegara tersebut, Pemerintah Indonesia kembali merenovasi Stadion Gelora Bung Karno (GBK).

Di balik kemegahan bangunan Gelora Bung Karno tersebut, ternyata tersimpan kontribusi dua ulama cum politisi yang berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), yaitu KH Saifuddin Zuhri dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Keduanya yang memberi nama sekaligus mempertahankan kompleks olahraga terbesar di Indonesia dengan nama Gelora Bung Karno.

Saat akan diresmikan oleh Presiden Sukarno pada 1962 kawasan yang berdiri di atas lahan seluas 270 hektare itu belum memiliki nama. Pada suatu pagi di serambi belakang Istana Merdeka, Bung Karno bersama beberapa menteri sedang membicarakan hal tersebut. Hadir di antaranya Menteri Dalam Negeri Dr Soemarno, Menteri Olahraga Maladi, dan beberapa pejabat lainnya, termasuk Menteri Agama kala itu KH Saifuddin Zuhri.

Dalam perbincangan tersebut, hampir disepakati sebuah nama untuk kompleks tersebut, yaitu Pusat Olah Raga Bung Karno. Usulan tersebut disanggah oleh Kiai Saifuddin, ayah Menteri Agama saat ini Lukman Hakim Saifuddin.

“Nama itu tidak cocok dengan sifat dan tujuan olahraga,” komentar Kiai Saifuddin. Semua mata tertuju kepadanya seakan tampak tak senang dengan sanggahannya tersebut.

“Mengapa?” selidik Bung Karno. “Kata ‘pusat’ pada kalimat ‘Pusat Olah Raga’ itu kedengarannya kok statis, tidak dinamis seperti tujuan kita menggerakkan olahraga,” jawab Kiai Saifuddin. “Usulkan nama gantinya kalau begitu!” sergah Bung Karno. “Nama ‘Gelanggang Olah Raga’ lebih cocok dan lebih dinamis,” usulnya.

“Nama Gelanggang Olah Raga Bung Karno kalau disingkat menjadi Gelora Bung Karno! Kan mencerminkan dinamika sesuai dengan tujuan olahraga,” jelasnya lebih lanjut.

“Waah, itu nama yang hebat. Saya setuju!” ungkap Bung Karno.

Saat itu pula, Bung Karno memerintahkan Menpora Maladi untuk mengganti nama tempat tersebut menjadi Gelora Bung Karno. Pada kesempatan itu pula, Kiai Saifuddin mengusulkan pemerintah untuk membangun masjid di areal GBK. Usul itupun diterima oleh Bung Karno.

Tetapi, seiring dinamika politik yang mendera Indonesia, nama Gelora Bung Karno terusik. Pergantian rezim dari Orde Lama ke Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Suharto melakukan upaya massif untuk menghilangkan peran Presiden Sukarno. Proses desukarnoisasi itu pun menimpa pada penamaan Gelora Bung Karno.

Pada 1989, Presiden Suharto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 4 yang berisi tentang pergantian nama Gelora Bung Karno menjadi Stadion Utama Senayan. Yayasan pengelolanya pun diubah dari Yayasan Gelora Bung Karno menjadi Yayasan Gelanggang Olahraga.

Tentu saja, kebijakan tersebut menghilangkan spirit sekaligus nilai historis dari kompleks olahraga tersebut. Tak banyak pihak yang berani menentang meski pada dasarnya banyak yang tak sepakat. Sikap represif pemerintah terhadap perbedaan pendapat memaksa pelbagai pihak yang keberatan untuk tutup mulut. Tak berani memprotesnya.

Mengembalikan nama Gelora Bung Karno kembali mencuat lebih dari satu dekade kemudian. Setelah Orde Baru lengser. Pada zaman Presiden Gus Dur, usulan itu muncul.

Usulan pergantian nama itu, pertama kali muncul saat digelar rapat dengar pendapat antara Komisi I DPR dan Mensesneg kala itu, yang juga menjadi Ketua Badan Pengelola Gelora Senayan (BPGS) pada 24 Oktober 2000. Usulan tersebut, kemudian direspon Presiden Abdurrahman Wahid pada saat menghadiri HUT PDI Perjuangan ke-28 di Stadion Utama Senayan, pada 14 Januari 2001.

Apa yang dijanjikan oleh Gus Dur tersebut lantas ditindaklanjuti beberapa waktu kemudian. Ia mengeluarkan Keputusan Presiden No. 7 tahun 2001 tentang pengalihan nama dari Stadion Utama Senayan kembali ke nama awal, Gelora Bung Karno.

Saat meresmikan stadion pada 21 Juli 1962, Bung Karno mengklaimnya sebagai yang terhebat di dunia. “Saya sudah keliling dunia melihat stadion di Rio de Janeiro, sudah melihat stadion di Warsawa, di Mexsiko, dan di negara-negara lain. Wah.. Stadion Utama ini adalah yang terhebat di seluruh dunia,” ujarnya dengan gaya orasinya yang khas. (NH/HDS) 

LEAVE A REPLY