BERBAGI
Ilustrasi paket kecil sabu (photo: ist)


PARIAMAN – Teka-teki kronologis penangkapan rombongan DPRD Padang Pariaman oleh petugas kepolisian Polda Metro Jaya atas kepemilikan sabu, saat melakukan kunjungan kerja (kunker) ke DPR RI, Jakarta tanggal 18 September 2018 silam, masih menyisakan polemik.

Aksi saling bantah serta saling tuduh di media sosial Facebook antara Dt. Lung anggota DPRD Padang Pariaman yang juga selaku ketua DPD Partai Golkar Padang Pariaman, dengan Rizki Maulana (staf Sekretariat DPRD Padang Pariaman) yang saat ini berada dalam tahanan kejaksaan masih terus berlanjut.

Dt. Lung yang ditemui media untuk dimintai keterangannya pada Selasa malam (19/2) di sebuah warung kopi di Koto Bangko, Sungai Geringging, terkait dengan pencatutan namanya oleh Rizki Maulana yang diduga melindungi anggotanya Rahmad Mahmudal alias Podeng yang tak lain anggota DPRD Padang Pariaman dari Partai Golkar, untuk ganti kepala dengan Rizki Maulana.

Inilah screenshoot postingan lengkap dengan narasi di akun Facebook Rizki Maulana

Dt. Lung membantah seluruh statmen yang diberikan Rizki ke media ini dari pemberitaan yang dimuat sebelumnya (baca: Rizki Maulana Ungkap Kronologis Penangkapan Sabu Saat Kunker DPRD Padang Pariaman di Jakarta). “Memang Rizki mengatakan saat itu pada saya untuk netral dalam kasus ini. Iya, selagi itu benar saya netral. Dan saya pastikan tidak ada tukar kepala,” sebutnya

Dari keterangan Dt. Lung menyatakan di BAP polisi, Rizki mengaku memakai satu paket kecil sabu bersama pacarnya di kamar. “Di BAP polisi, penyidik yang bilang ke saya, bahwa Rizki waktu penangkapan itu, telah memakai satu paket kecil sabu bersama pacarnya Windi di kamarnya, ditemukan barang bukti alat hisab (pipet) sabu bekas pakai. Dan kata penyidik, di pipet itu polisi menemukan sidik jari Rizki. Dan katanya juga air liur yang ada di sedotan,” ungkap Dt. Lung. Dia juga menyebutkan jika dirinya sudah memberikan keterangan sebagai saksi tentang Windi.

Sementara, lebih jauh mengenai Windi, Dt. Lung melanjutkan, saat ini berstatus wajib lapor setelah diperiksa selama 4 hari di Polda Metro Jaya. “Setelah diperiksa selama 4 hari di Polda Metro Jaya, karena berdua di kamar bersama Rizki saat penangkapan telah memakai satu paket kecil, sekarang Windi statusnya wajib lapor,” ujarnya lagi.

Dt. Lung juga menyentil keberadaan Rahmad Mahmudal alias Podeng saat penangkapan sedang berada di kamarnya. “Waktu penangkapan Rizki itu, Podeng berada di kamarnya. Bohong Rizki kalau ini adalah tukar kepala. Kata penyidik ketika itu ke saya, ‘gila kalau dia tidak dites urinenya’. Mana berani polisi menangkap kalau tidak ada tes urine. Screenshoot percakapan WA Rizki dengan Buyung juga disimpan penyidik,” papar Dt. Lung menirukan keterangan penyidik.

Setelah Dt. Lung memberikan pernyataannya. Tak lama media ini pun kembali menghubungi Rizki yang meminta untuk diluruskan pemberitaan sebelumnya, karena menurutnya, ada pernyataan dirinya yang tertinggal. Dia mengatakan saat itu dirinya baru saja selesai memberikan keterangan dipersidangan.

“Saya ingin meluruskan pemberitaan sebelumnya karena ada segmen yang tertinggal ditulis media ini. Yaitu pada saat Podeng 4 kali bolak-balik ke kamar saya, sebelum petugas datang menuju kamar. Itu, pada kali ke empatnya Podeng bolak-balik ke kamar, yang sebelumnya dia juga menelpon saya menanyakan keberadaan Buyung. ‘Di mana kawan, si Buyung ada di kamar sama kawan tidak. Ini ketua (DPRD Faisal Arifin) marah-marah mau ngajak keluar. Tapi hp si Buyung ini mati’, kata Podeng. Lalu dia datang ke kamar saya, mengumpat dan marah pada Buyung, katanya dari tadi hp Buyung tidak aktif-aktif,” sebut Rizki mengulas cerita waktu kejadian.

“Lalu saya telpon Buyung. Nyambung, nomornya aktif dan diangkat. Saat saya tanya dia di mana, tidak menjawab di mana posisinya, malah bertanya balik ke saya. Ada apa, katanya. Lalu saya jelaskan kalau Podeng mencari Buyung. Setelah itu saya kasih hp saya ke Podeng, mereka bicara. Setelah itu Podeng keluar. Nah, tak berselang lama sekitar 10 sampai 20 menit lah, baru petugas datang. Sedangkan untuk screenshoot percakapan WA itu. Pengiriman uang satu juta yang saya transfer itu tidak ada saya memesan sabu, gunanya untuk biaya transportasi rombongan selama di Jakarta.”

Rizki meyakini posisi Dt. Lung saat ini diduga kuat melindungi anggotanya Rahmad Mahmudal alias Podeng yang digantikepala-kan. “Kenapa itu saya sebutkan (ganti kepala). Pertama, waktu polisi menggeledah kamar saya, polisi memperlihatkan foto Fera, pacar Podeng sembari bertanya kenal atau tidak dengan Fera. Lalu mengatakan dia bersama Rahmad Mahmudal. Nah, kenapa polisi kenal dengan Podeng dan menanyakannya ke saya?” jelasnya bertanya.

Selanjutnya, kata Rizki lagi, dua bulan berjalan, penyidik menanyakan data Podeng ke dirinya dan meminta nomor hp Sekretaris Dewan (Muhadek Salman) dan ketua DPRD (Faisal Arifin). Polisi menyatakan surat perintah penangkapan Podeng sudah keluar. “Alasannya penyidik ketika itu pimpinan mereka (Kanit) sudah ganti dengan yang baru. Kanit kami baru, katanya.”

Lagi pula, masih sebut Rizki, penyidik Polda Metro Jaya sudah datang ke kantor DPRD Padang Pariaman sekira bulan Desember. “Saat itu mereka sedang melakukan kunker ke Jawa Barat. Selepas kunker barulah Dt. Lung mendatangi Polda. Di sana-lah saya meminta agar Dt. Lung belaku netral. Karena Putri pacar Buyung, Fera pacar Podeng sekamar berempat. Dan kenapa Windi tidak ditahan hanya saya yang ditahan seandainya kalau memang saya memakai sabu. Kan sudah dibuat-buat (lacur),” papar Rizki geram.

LEAVE A REPLY