BERBAGI
CTP dan LM yang jadi korban 'pelecehan'
Disebabkan lupa menyematkan lambang sekolah pada jilbab mereka, dua orang siswa SMA Negeri 1 IV Angkek yang merupakan sekolah rujukan Kabupaten Agam, Propinsi Sumatera Barat mengaku dilecehkan oleh SB, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, dengan cara merenggut paksa jilbab yang mereka kenakan di depan beberapa murid lainnya

AGAM, REPINVESCOM

Adalah CTP dan LM, dua orang siswi kelas 10 MIPA 4 yang mengaku direnggut jilbabnya oleh sang wakil kepala sekolah, ketika mereka baru saja keluar dari wc sekolah. “Tiba-tiba saja kami dicegat oleh Pak Pong (panggilan akrab siswa siswi kepada SB sang Waka Kesiswaan), dan beliau langsung menarik jilbab kami berdua sambil memaki-maki,” kata mereka saat diwawancarai wartawan sehari setelahnya.

Mereka mengatakan, tindakan itu awalnya dipicu akibat ketakutannya terhadap kebiasaan SB yang sering berkata kasar saat menegur kesalahan siswa. “Kami sangat tahu sifat beliau, jadi ketika beliau memanggil kami berdua dikarenakan lambang sekolah lupa kami sematkan di jilbab, kami berdua langsung mengambil lambang tersebut yang kebetulan tinggal di tas dalam kelas, dan kami pasang di wc sekolah. Namun ketika kami berada di dalam wc, tiba-tiba ada yang menggedor-gedor pintu, tanpa kami sadari beliau (Waka Kesiswaan) itu rupanya mengejar kami sampai ke wc, dan ketika kami membuka pintu wc tindakan itulah yang langsung kami dapatkan dari beliau,” terang mereka.

Keterangan tersebut juga dibenarkan oleh beberapa siswa lainnya, dan bahkan mereka mengatakan sempat akan melakukan demo, guna memprotes tindakan Wakil Kepala Sekolah tersebut, namun aksi itu dihalangi oleh guru.

“Perlakuan kasar terhadap siswa, bukan kali itu saja dilakukan oleh beliau, Pak. Yang bersangkutan sering kali memaki kami dengan sebutan nama binatang, mengancam siswa dikeluarkan dari sekolah, dan menekan dengan selalu meminta orangtua siswa datang ke sekolah hanya gegara persoalan kecil,” kata beberapa siswa menjelaskan kepada wartawan.

Kepada wartawan, mereka memaparkan ketidaknyamanan para pelajar yang terjadi di SMA Negeri 1 IV Angkek Kabupaten Agam, atau yang lebih dikenal SMA Lambah selama ini, hal itu diungkapkan oleh para siswa siswi secara bergantian menjelaskan pada wartawan, bahwa selama ini tidak ada yang berani berbicara kepada media, sehingga tidak diketahui oleh publik.

“Sebenarnya banyak yang musti kami sampaikan, mulai dari tidak komitmennya SB terhadap aturan jam masuk sekolah, hingga ungkapan yang tidak senonoh yang dikeluarkan oleh para guru yang pro terhadap SB ketika menagih uang komite kepada siswa-siswi yang menyinggung perasaan siswa-siswi, dengan menyebut apakah kami serius untuk bersekolah di sini, atau mengatakan apakah orangtua kami punya uang nggak untuk menyekolahkan kami disini,” papar mereka secara bersama.

Keluhan demi keluhan mereka sampaikan, hingga menyebut nama wakil kepala sekolah bidang lainnya, yang sempat membagikan nomor ujian ketika mengikuti ujian simulasi komputer sekitar awal bulan November silam, kepada siswa-siswi dengan cara melemparkannya ke udara, yang selanjutnya dipungut oleh para siswa- siswi.

“Begitulah yang kami alami di sini Pak, disamping tindakan guru disiplin yang kadang seenaknya memotong rambut siswa laki-laki yang sebenarnya sudah rapi berdasarkan tata tertib yang diberlakukan sekolah, yang mana tidak melebihi telinga, pelipis depan, dan tidak menempel ke krah baju belakang. Sehingga kami para siswa-siswi di sekolah ini selalu dibuat serba salah tanpa adanya peringatan-peringatan sebelumnya,” keluh mereka.

Keluhan para siswa-siswi itu juga dibenarkan oleh para guru yang juga ikut memberikan keterangan pada wartawan perihal yang terjadi di sekolah tersebut. “Sebenarnya protes siswa-siswi terhadap perenggutan paksa jilbab dua siswi kelas 10 yang dilakukan Wakil Kepala Sekolah SB tersebut, merupakan puncak kekesalan yang dijabarkan oleh murid-murid kita, dan memang tidak bisa kita pungkiri itu, memang terjadi selama ini,” aku salah satu guru yang hadir.

Kekesalan itu, menurut mereka patut terjadi mengingat kewibawaan guru itu yang tidak ada saat ini. Seolah yang bersangkutan tidak menginginkan adanya siswa siswi bersekolah di SMAN 1 Lambah tersebut, sehingga sekecil apapun kesalahan yang dilakukan murid, selalu ditanggapi dengan kasar tanpa ada upaya pembinaan dan peringatan sebelumnya.

“Dalam setiap rapat rapat evaluasi pada tingkat guru, kami selalu menyampaikan keluhan-keluhan murid, yang memang selalu kami terima. Tapi, yang bersangkutan selalu menekankan agar para guru tidak boleh memberikan respon kepada siswa-siswi ketika wakil kepala sekolah menegakkan aturan. Lah, kita bukannya tidak setuju ketika aturan itu dijalankan, tapi aturan itu kan memiliki tahap-tahapan yang musti dilalui, kan tidak langsung memberikan hukuman kepada siswa-siswi,” terangnya lanjut.

Lebih jauh dia menyebutkan, bahwa SMAN 1 IV Angkek memiliki total tenaga guru 87 orang, dan lebih separuhnya sudah memberikan pendapat agar waka sekolah tersebut tidak bertindak terlalu menekan siswa-siswi dengan cara mengancam dipindahkan, selalu menyuruh para murid memanggil orang tua mereka hanya karena persoalan terlambat masuk sekolah yang hanya selang beberapa menit saja.

“Para murid selalu berkeluh kesah dengan kami, bahwa SB sering mengancam mereka untuk menyediakan pas foto 3×4 guna kepengurusan perpindahan sekolah. Dan bahkan menurut para murid, tak tanggung-tanggung SB justru bersedia juga mencarikan sekolah yang akan menerima mereka. Ini apa namanya, apakah SB itu tidak menyukai lagi ada siswa-siswi di sekolah ini? Dan ini juga sudah sering kami sampaikan pada rapat-rapat guru, tapi tidak ada tanggapan berarti dari kepala sekolah,” paparnya kesal.

Menanggapi persoalan adanya dugaan tindakan pelecehan yang dilakukan oleh wakilnya terhadap 2 siswi kelas 10 MIPA 4, Kepala Sekolah SMAN 1 IV Angkek Kabupaten Agam, Propinsi Sumatera Barat, Rusdianif membenarkan hal itu, dan juga sudah diselesaikan antara kedua belah pihak. “Pelaku sudah mengakui bahwa itu adalah sebuah kekhilafan yang dilakukannya, dan pihak keluarga pun sudah memaafkan,” katanya.

Dan, mengenai keluhan-keluhan yang di sampaikan oleh siswa-siswi lainnya, dia menyebutkan bahwa itu tengah dipelajari. “Barusan kita melakukan rapat evaluasi dengan seluruh guru, dan memang banyak keluhan-keluhan murid terhadap Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan tersebut yang disampaikan oleh guru, namun tentunya itu musti kita evaluasi terlebih dahulu mengingat persoalan ini sebelumnya tidak pernah kita ketahui,” jelasnya.

Rusdianif juga meminta, agar seluruh pihak untuk bersabar dan tidak melakukan reaksi negatif terhadap sekolah, serta berjanji akan menyelesaikan persoalan ini secepatnya. “Persoalan ini akan segera kita sikapi, dan yang bersangkutan juga telah menyatakan akan menerima sangsi apapun yang akan diberikan oleh pihak dinas kepadanya, jadi saya minta agar semua pihak bersabar,” ungkapnya mengakhiri.

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY